Gesha, Kopi Paling Mahal di Dunia, Bisa Dinikmati di TGC Coffee

Gesha, Kopi Paling Mahal di Dunia, Bisa Dinikmati di TGC Coffee – Pernah merasakan kopi Gesha atau bisa juga disebut Kopi Geisha? Ini merupakan kopi yang diklaim sebagai kopi paling mahal di dunia. Harga kopi dalam bentuk bikian per kilogramnya bisa mencapai Rp65 juta. Luar biasa bukan!

Baca juga : Di London, Kopi Akan Jadi Bahan Bakar Bus

Nah, jika Anda ingin menikmati kopi Gesha, tapi dengan harga yang tak selangit, Anda bisa berkunjung ke TGC Coffee. Kafe yang ada di Loop, Graha Famili Surabaya, ini memang dikenal menyajikan speciality coffee.

Owner TGC Coffee, Daniel Ko, mengatakan penawaran langka itu sekaligus sebagai rangkaian ulang tahun TGC Coffee yang ke-2. Oleh karena itu, pihaknya menghadirkan bean tamu sebanyak 21 varian Gesha.

Diakuinya, saat ini Gesha menjadi primadona kopi di dunia. Tak hanya karena karakter rasanya yang kaya, kopi ini menjadi salah satu kopi termahal di dunia.

“Selain itu, produksi panen dari kopi ini tidak banyak, kebetulan saya berkesempatan memiliki beberapa varian dan saya ingin berbagi dengan pelanggan setia TGC. Khususnya pemegang member TGC,” katanya, kemarin.

Lantas, berapa harga kopi Gesha yang dia tawarkan? Daniel menyebut, dia hanya mematok harga Rp 110 ribu – 125 ribu per cangkir. “Namun kami hanya menyediakan terbatas 6-7 cangkir untuk setiap kopi Gesha yang kami olah. Padahal jumlah member kami sekitar 1.500 orang. Jadi siapa cepat, dia dapat,” ujar Daniel.

Dipaparkannya, kopi Gesha bisa mahal karena saat ini permintaan yang semakin meninggi akan kopi ini. Sementara tempat penanaman kopi Geisha, yaitu dataran tinggi Panama, terbilang semakin menyempit karena banyak tanah yang telah terjual untuk dibangun rumah bagi orang-orang kaya Amerika Utara. Apalagi upah para pekerja yang menanam biji kopi Geisha terbilang mahal sehingga sebagian besar biaya tersebut dibebankan kepada konsumen.

“Saya bisa mendapatkan kopi ini dari hasil lelang yang dilakukan di pasar global,” kata Daniel bangga.

Sekadar diketahui, TGC Coffee yang merupakan kependekan dari The Grinder Coffee adalah gerai kopi yang boleh dibilang berbeda dengan gerai-gerai kopi lain di Surabaya. Pasalnya, biji kopi mentah yang dipakai adalah kopi single origin, berasal dari sumber yang telah terpercaya dan memiliki kopi dengan kualitas sangat baik hingga kualitas speciality.

Produk TGC adalah kopi Indonesia dan kopi impor. Tersedia beragam pilihan Arabica murni, TGC house blend, dan juga Robusta murni. Produk TGC adalah 100% kopi murni. Proses sangrai dilakukan di Surabaya menggunakan mesin canggih yang higienis. Bahan yang digunakan murni kopi tanpa menggunakan campuran esens atau perisa maupun pewarna.

Pengunjung di TGC Coffee, bukan saja dari Surabaya, melainkan banyak di antaranya dari luar kota, seperti Sidoarjo, Pasuruan, Malang, bahkan Jakarta dan Makassar.

Kenikmatan Wisata Kopi di Banyuwangi

Kenikmatan Wisata Kopi di Banyuwangi – Desa Gombengsari berlokasi di bagian timur Banyuwangi, termasuk ke dalam wilayah perkebunan Kali Klatak, Kalipuro. Dari 212,8 kilometer persegi luas Kalipuro, 330 hektare di antaranya adalah kebun kopi rakyat.

Baca juga : Keunikan Kopi Lego Khas Banyuwangi

Ketika kamu memasuki wilayah ini, sepanjang jalan yang kamu susuri terpampang jelas kebun-kebun kopi bersama kandang kambing di sela tiap rumah warga. Aroma kopi dari tanaman hingga biji-biji kopi yang tengah berjemur di terik matahari menguar di udara.

Bayangkan jika ratusan hektar kebun kopi itu tengah berbunga. Barangkali surga pecinta kopi akan mewujud juga di sini. Di masa itu, biasanya memang banyak wisatawan, khususnya turis asing, datang berkunjung.

Rakyat desa ini menawarkan jenis wisata yang sedikit berbeda, yakni wisata edukasi di bidang pertanian dan peternakan. Kopi dan kambing etawa menjadi potensi unggulan yang tengah mereka kembangkan.

Datang ke sini, kami disambut oleh Haryono, yang akrab disebut Pak H.O, seorang petani dan juga pionir usaha wisata kopi di desa ini. “Berawal dari tahun 2016, kita membangun, mengenali, mengelola sebuah potensi yang ada di Gombengsari ini. Kita awali dengan kopi yang mana memang kopi ini sudah lebih 50 tahun ditanam,” jelasnya.

Kopi Lego namanya, singkatan dari Kopi Lerek Gombengsari. Kopi Lego menjadi merek dari produk kopi yang dihasilkan maupun nama usaha wisata yang tengah mereka kembangkan.

Di halaman rumahnya, seperti halnya rumah warga lain, penuh dengan kopi yang sedang berjemur ria menunggu kering agar bisa digiling. Kami tak segera diajak berkunjung ke kebun kopi yang disediakan untuk wisata, melainkan menuju kandang kambing etawa terlebih dulu.

Kambing peranakan etawa, penghasil susu, menjadi salah satu potensi yang dimiliki desa ini. “Kita punya produksi (susu kambing) ini bisa langsung dikonsumsi dan bebas bau. Itu akhirnya ini menjadi salah satu potensi yang kita jual,” papar Pak H.O di depan kandang berisi puluhan kambing miliknya.

Sehingga wisatawan bisa memerah susu sapi dan langsung meminumnya, meski tanpa dimasak.

Kambing dan kandangnya tampak cukup bersih dan terawat. Bau kambing tentu tetap tercium namun tak menusuk hidung. Proses pemerahan susu kambing berlangsung setiap hari, jadi kamu bisa menikmatinya kapan pun.

“Tak ada bau amis dan rasanya ada manis-manisnya ya,” ujar kami setelah mencoba meminum susu kambing segar ini. Susu kambing etawa ini dipercaya bisa meningkatkan vitalitas dan energi.

Pak H.O menjelaskan, jika tidak disimpan dalam suhu dingin susu ini hanya bisa bertahan 24 jam saja. Namun jika disimpan dalam lemari pendingin, ia aman diminum hingga hari ketiga. Kami pun membawa sebotol susu kambing segar.

Ketika secangkir kopi disuguhkan, kami diminta untuk mencampur susu dan kopi tersebut. Rasanya ternyata tak kalah dengan kopi-kopi di kafe atau resto mewah. Kopi susu ternikmat, bagi saya, yang pernah kami nikmati.

Setelah mengisi energi dengan kopi dan susu kambing, kami beranjak menuju kebun kopi yang khusus diperuntukkan bagi wisatawan. Di sana kami diajak berkeliling oleh Pak Taufik, petani dan pemilik kebun. Mulai dari memetik kopi hingga memanggang dan menumbuknya, kami coba.

“Yang dipetik itu yang bijinya sudah merah, minimal kuning lah. Soalnya pengaruh ke rasa,” ujarnya. Setiap hektar kopi berjenis robusta ini terdapat tiga jenis varietas kopi yang berbeda. “Per hektar itu ada tiga jenis kopi. Minimal 3 jenis kopi, kopi robusta ada jenis robusta togosari, ada robusta kleres, ada robusta konoga,” jelasnya.

Semula kopi-kopi digabung jadi satu, namun setelah diteliti rasanya yang berbeda-beda, ketiga jenis kopi itu pun dipisah berdasar jenisnya.

“Di masing-masing varietas itu kita coba seperti apa cita rasanya. Ternyata di sini masing-masing robusta dari varietas togosari, konoga, sama kleres ini memiliki rasa tersendiri. Yang ini alhamdulillah sekarang ada nilai jualnya tersendiri,” jelas Pak Taufik.

Setelah dipetik, kopi kemudian dijemur selama kurang lebih tiga hari. Hal itu demi mengurangi kadar air di dalamnya sehingga proses roasting bisa lebih cepat dan rasa lebih nikmat.

Proses selanjutnya adalah penggilingan yang menggunakan mesin giling sederhana. Kami menggiling kopi yang sudah disiapkan untuk digiling tentu saja. Kulit bekas kopi dimanfaatkan ulang kemudian sebagai pupuk organik dicampur dengan kotoran kambing yang banyak dimiliki warga desa di sini.

Setelah itu, kopi siap dipanggang. Caranya masih tradisional, yakni dipanggang di atas wajan tanah liat dengan tungku perapian dari kayu.

Perlu kesabaran, ketekunan, teliti, dan tenaga yang cukup untuk menyanggrai (menggoreng tanpa minyak) kopi hingga matang. Setidaknya 40 menit kopi tersebut harus terus diaduk di atas perapian sampai berwarna cokelat dan matang merata.

Barulah kemudian kopi ditumbuk, juga dengan cara tradisional. Sampai akhirnya bisa kamu seduh.

Menyeduh kopi di tengah hamparan kebun setelah lelah dan pegal tangan ternyata menimbulkan kepuasan yang berbeda. “Kopi itu digiling, bukan digunting,” ucap Pak Taufik sambil tertawa.

Keunikan Kopi Lego Khas Banyuwangi

Keunikan Kopi Lego Khas Banyuwangi – Banyuwangi ternyata tidak hanya memiliki potensi wisata alam dan budaya yang melimpah. Potensi kopi yang dimiliki, khususnya di wilayah Gombengsari, Kalipuro, Banyuwangi pun sedang naik daun.

Baca juga : Kini Ada Cat Kuku yang Mengandung Kafein

Dalam beberapa tahun terakhir ini potensi pertanian dan industri kopi di Indonesia memang terbilang meningkat pesat. Bahkan kopi mempunyai potensi pariwisata. Aneka kopi dari Sabang sampai Merauke bisa menjadi alasan wisatawan untuk mengunjungi berbagai daerah di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, Esthy Reko Astuti.

“Kemudian juga, cara pengelolaannya itu juga menarik untuk wisatawan,” tambah Esthy. “Cara minumnya juga bervariasi dari masing-masing daerah. Nah itu akan menjadi daya tarik tersendiri, ya.”

Hal itu juga yang membuat warga desa Gombengsari memperkenalkan potensi kopi yang dimilikinya melalui pariwisata.

“Kopi sudah sangat populer dan hampir semua di kota-kota sekarang mulai muncul kedai, warung kopi, mulai dari yang sederhana sampai yang mewah. Yang pasti ini produknya petani,” ucap Haryono, salah satu petani di Gombengsari.

Pria yang akrab dipanggil Pak H.O ini pun bersama petani lainnya mengembangkan wisata kopi bernama Kopi Lego (Kampong Kopi Lerek Gombengsari). Melalui wisata ini para pengunjung diajak untuk berkenalan dengan jenis kopi yang dimiliki hingga menjajal langsung semua proses produksi kopi yang masih tradisional.

Gombengsari memiliki kopi berjenis robusta dengan 3 macam varietas, yakni Konoga, Togosari, dan Kleres. “Per hektar itu ada 3 jenis kopi. Minimal 3 jenis kopi, kopi robusta ada jenis robusta togosari, ada robusta kleres, ada robusta konoga,” papar Taufik, petani di Desa Gombengsari.

Kopi yang tumbuh di daerah antara Ijen dan pantai ini boleh dibilang memiliki cita rasa yang khas.

“Kopi di sini kenapa rasanya juga banyak konsumen ini ngomong beda dari yang lain mungkin juga dari letak geografisnya. Juga mungkin dari faktor pemupukannya. Karena di kita ini ya alhamdulillah kita ini sudah pemakaian pupuk organik,” jelas Taufik.

Walaupun berjenis robusta, kopi yang dihasilkan memiliki rasa yang lebih lembut. Bahkan jenis konoga, sebagai kopi paling mahal dari desa ini, mempunyai rasa seperti arabika.

“Paling mahal yang sekarang ini konoga. Karena cita rasa konoga ini sudah, jika diproses secara benar, mendekati (rasa) kayak arabika,” jelas Taufik.

4 Manfaat Kopi Untuk Kesehatan Kulit -

4 Manfaat Kopi Untuk Kesehatan Kulit – Selama ini mungkin kamu hanya mengira kalau kopi merupakan minuman terbaik untuk kesehatan jantung. Tapi, tidak hanya jantung saja, ternyata kopi juga bermanfaat bagi kesehatan kulit.

Baca juga : 6 Kedai Es Kopi Kekinian yang Paling Tenar di Jakarta

Kopi sebagai sumber antioksidan mampu menangkal radikal bebas yang bisa menyebabkan banyak masalah kesehatan, seperti kanker. Selain itu, kopi juga dipercaya bisa membuat kulit lebih cerah dan halus dengan mengolahnya sebagai masker.

Tidak hanya itu saja, ada manfaat lain yang bisa kamu dapatkan dari minuman yang dijuluki sebagai ‘wonder drink’ ini. inilah sederet manfaat kopi bagi kesehatan kulit:

1. Mencerahkan dan Melembutkan Kulit

Tak melulu diminum, kamu bisa membuat masker kopi yang berkhasiat untuk mencerahkan dan melembutkan kulit. Kualitas bubuk kopi yang baik mampu memperbaiki jaringan kulit dengan cara mengatur pertumbuhan sel kulit baru. Mengaplikasikan masker kulit ke seluruh tubuh dipercaya dapat mempertahankan hidrasi tubuh dan meningkatkan elastisitas kulit.

2. Melindungi Kulit dari Sinar Matahari

Kopi bisa menjadi penangkal dari sinar UV, karena kandungan kafein pada kopi bisa melindungi kulit dari kerusakan DNA yang disebabkan oleh paparan sinar UV. Menyesap kopi juga merupakan cara terbaik untuk mencegah kanker kulit.

3. Sumber Antioksidan

Jumlah volume kendaraan yang semakin meningkat membuat aktivitas masyarakat terganggu karena polusi udara.

Kopi sebagai sumber antioksidan mampu menjadi penangkal radikal bebas yang bisa menyebabkan kerusakan pada kulit. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji kopi bisa menutrisi sel kulit, karena senyawa antioksidan yang terkandung di dalamnya.

4. Menjaga Sirkulasi Darah

Berkhasiat menjaga kesehatan jantung, kopi telah dipercaya mampu melancarkan sirkulasi darah. Konsumsi kopi secara rutin bisa memberikan dampak yang baik pada kesehatan kulit dan juga membuat tubuh lebih berenergi.

Secara efektif, kopi akan mengurangi pembengkakan yang bisa terjadi di dalam jaringan kulit. Jika ingin mengurangi pembengkakan, kamu bisa membekukan kopi lalu mengompresnya dengan es kopi tersebut di bagian yang mengalami pembengkakan.

Indonesia Akan Menjadi Produsen Kopi Terbesar Kedua di Dunia

Indonesia Akan Menjadi Produsen Kopi Terbesar Kedua di Dunia – Saat ini Indonesia masih menjadi salah satu produsen kopi terbesar di dunia dengan ada di peringkat keempat. Peringkat pertama masih diduduki oleh Brasil, lalu disusul secara berturut-turut Vietnam dan Kolombia di peringkat 2 dan 3.

Baca juga : Kopi Luwak Asli Wonosalam Jombang yang Nikmatnya Terkenal Hingga Luar Negeri

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menganggap produksi kopi Indonesia masih bisa ditingkatkan. Untuk saat ini, Kementerian Pertanian mencatat produksi kopi Indonesia mencapai 643.857 ton per tahun. Dan dari jumlah itu, sebanyak 73,57 persen atau 473.672 ton merupakan jenis kopi robusta sementara sisanya sebanyak 26,43 persen atau 170.185 ton adalah kopi arabika.

“Yang nomor satu dunia itu Brasil, peringkat 2 Vietnam, kemudian Kolombia, lalu Indonesia. Nah ini ke depan doakan akan ubah ada dua hal pertama adalah varietas harga yang bagus adalah itu arabika harganya lagi bagus dua kali lipat,” ujar Amran.

Amran mengatakan, pemerintah akan terus meningkatkan produksi kopi Indonesia. Dengan begitu, Amran optimistis Indonesia akan menjadi raja produsen kopi terbesar kedua di dunia, menggeser Vietnam.

“Sekarang ini kan produksi kita 0,6 ton kami ingin naikkan 1 ton, kita akan bertengger di posisi nomor dua dunia. Enggak usah dulu 2 ton, 1 ton aja dulu. Kalau kita kejar dulu kita berada pada posisi 2 dunia,” terangnya.

Selain itu, pemerintah juga mempunyai strategi untuk meningkatkan produksi kopi jenis Arabika. Alasannya, permintaan pasar dunia untuk kopi arabika jauh lebih besar jika dibandingkan robusta.

“Robusta itu harganya di bawah sedangkan kita robusta itu 90 persen kami akan turunkan, kita upayakan 50 persen turun populasinya. Kita tingkatkan populasi arabika kemudian dorong arabika kemudian robusta turunkan komposisinya,” ucap Amran.

Untuk merealisasikan rencananya ini, Kementan akan mengajak Kementerian Pertanian Vietnam. Indonesia hanya sekadar ingin mengetahui bagaimana cara Vietnam meningkatkan produksi kopi mereka.

“Kami diskusi dengan mereka (Vietnam) kami sampaikan. Ada delegasi dari Indonesia empat sampai 6 orang khusus untuk melihat bagaimana produktivitasnya di sana. Tahu produktivitas mereka? 2,8 sampai 2,5 sampai 3 ton per hektare. Ingat karet dulu kita ajari mereka, sekarang kita gantian,” tandas Amran.