Kopi Indonesia | Fakta Seputar Kopi | Komunitas Pecinta Kopi

Paket Lengkap Liburan di Wisata Kopi Gombengsari – Tak hanya Kawah Ijen yang terkenal dengan keindahan Blue Fire-nya serta sederet pesona panorama pantai, daerah ujung timur pulau Jawa ini juga menawarkan wisata kopi, namanya wisata Kopi Lego Gombengsari.

Baca juga : Mengenal Lebih Dekat Kopi Hutan di Bondowoso

Di sini kamu bisa menikmati hamparan tanaman kopi yang terhampar di hampir semua halaman rumah warga. Para turis, baik lokal maupun mancanegara, bisa menikmati wisata memetik kopi dan memerah susu kambing secara manual. Hijaunya alam, ramahnya penduduk lokal, serta udara yang sejuk menjadi bonus bagi para wisatawan yang memilih paket wisata ini.

Tak perlu khawatir untuk tempat tinggal. Banyak rumah-rumah warga yang bisa disewa dengan harga yang cukup terjangkau dan juga fasilitas yang terjamin.

Anita Homestay contohnya. Rumah dengan bentuk minimalis ini dilengkapi dengan 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 ruang makan,serta 2 ruang tamu. Pada bagian luarnya juga dilengkapi dengan halaman parkir yang cukup luas.

Anita sebagai pemilik homestay menjelaskan, bukan hanya fasilitas itu saja yang bisa dinikmati oleh para wisatawan. Melainkan fasilitas TV, kulkas, dan kompor gas untuk memasak juga tersedia dalam rumah yang disewakannya.

“Kalau ini yah fasilitias kamar 3. Jadinya mereka bebas mau tidur dimana saja dengan fasilitas yang ada dan sudah kami sediakan. Kita kasih rumah. Sudah termasuk TV, kulkas, dan semua fasilitas. Jadinya mereka, tamu, yang menginap itu bebas. Mau nonton TV, mau masak, dan lain-lain, silakan. Monggo,” ujar Anita.

Harga yang ditawarkan juga sangat murah. Cukup dengan membayar Rp 750 ribu per malam, dengan kapasitas maksimal 15 orang dalam satu rumah, sudah bisa menempati homestay itu.

“Rumah 1 hari satu malam gitu saja. Kalau bicara kamar pasti kurang. Kadang orang 15 orang, kadang 10. Jadinya kan kita gak bisa hitung kamar. Itu gak cukup. Biasanya yang saya tawarkan per malam. Rp 750 ribu satu rumah. Tapi maksimal 15 orang,” jelasnya.

Selain itu, untuk makan sehari-hari juga tersedia dalam paket wisata ini. Para tamu dibebaskan untuk memilih apakah menu yang menjadi kesukaan. Sehingga para warga yang bertugas menyediakan makan bisa menyesuaikan selera yang ada.

“Itu nanti kita tanya dulu mau menu apa baru kita kasih harga. Biasanya bisa Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu untuk sekali makan. Nanti makannya disediakan oleh warga sekitar sekaligus makan bersama,” paparnya.

Karena itu, biasanya, para tamu yang datang sering menginap berulang kali karena merasa nyaman dan seolah berada di kampung sendiri. Hal ini karena sistem kekeluargaan yang masih diterapkan oleh warga sekitar Gombengsari.

“Mereka sukanya karena dikelilingi kebun kopi. Yah ada juga yang bilang airnya sejuk. Bikin kerasan, tempatnya nyaman, gitu. Kayak rumah sendiri. Soalnya sistem kekeluargaan yang ada antara masayarkat lokal dan para tamu,” jelasnya.

“Paling lama, ada yang menginap 3 hari. Ada yang 1 minggu bahkan ada yang 12 hari. Walaupun aktivitas (wisata) di luar Kopi Lego mereka gak mau pindah. Di sini lingkungannya ramah dan tim disini welcome dan kita menjamu dengan kekeluargaan. Biar lebih harmonisasi lebih kuat,” imbuhnya.

Mengenal Lebih Dekat Kopi Hutan di Bondowoso

Mengenal Lebih Dekat Kopi Hutan di Bondowoso – Pernah mendengar kopi hutan? Komoditas perkebunan yang semakin trendi ini menyandingkan pohon-pohon hutan dengan tanaman kopi.

Gunung Ijen dan Raung tidak lagi jadi satu-satunya tujuan jika menikmati perjalanan menuju ke sana. Kebun-kebun kopi di kaki sampai jelang kawah Ijen yang menjadi tambang belerang memberi kisah tentang kopi hutan.

Baca juga : Kopi Indonesia Semakin Diminati Oleh Warga Taiwan

Jalur menuju Gunung Ijen kini semakin lebat. Pepohonan besar di lahan BUMN Perhutani berpadu dengan aroma kopi. Perkebunan kopi arabika di wilayah Bondowoso, Jawa Timur ini bekerjasama dengan Perhutani. Jadilah sistem agroforestry, perpaduan antara tanaman kebun dan hutan.

Puluhan tukang sedang memperbaiki jalan raya, pada 25 Agustus tahun lalu. Jalan raya menuju kawah Ijen ini akan lebih mulus beberapa bulan ke depan. Di kanan kiri, terlihat kerapatan pohon besar puluhan meter menjulang dan pohon kopi sebatas 1-2 meter di bawahnya.

Pada bulan Agustus, pohon kopi sudah tidak ada buahnya, musim panen sudah lewat di bulan April-Juli. Hanya tinggal debu menempel di dedaunannya dan bakal bunga kopi yang sudah mulai mengintip.

Menikmati aroma kopi dan puncak Ijen dari lerengnya sangat mudah dari kawasan Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin. Tinggal masuk ke sebuah kebun, menyibak kerapatan tanaman kopi. Sebuah pondokan kayu milik kelompok Tani Maju menjadi salah satu spot untuk menikmatinya.

Di pondok kayu ada spanduk dengan wajah ketua kelompoknya, Mat Husen. Juga informasi soal sertifikat Indikasi Geografis (IG) yang didapatkan kopi Bondowoso dengan nama Kopi Arabika Java Ijen Raung pada 2013.

Pepohonan hutan yang melebatkan lereng Ijen ini bermacam jenisnya. Misalnya Selasean yang harum, Gelintongan, Beringin, dan lainnya. “Petani sharing hasil 30:70 dengan pemerintah, sepertiga kuintal untuk Perhutani, sisanya untuk biaya perawatan dan keuntungan petani,” ucapnya bangga.

Pohon-pohon hutan tidak bisa ditebang atau dijual, petani hanya memanfaatkan sebagai pohon peneduh bagi kopi, terutama Arabika yang cocok ditanam di area 9000-1300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

“Masih untung petani. Tidak boleh dipotong nanti erosi dan untuk pelestarian kawasan,” jelas Mat Husen. Ia fasih bicara soal hutan karena pernah menjadi pekerja Perhutani bagian keamanan. Tapi berhenti dan fokus menjadi petani sekaligus juragan kopi hingga kini.

Mat Husen mengaku salah satu dari 5 petani kopi pada 2010 yang dikirim mengikuti pelatihan pasca panen di Kintamani, Bangli, Bali. Generasi pertama ini selain dia ada H. Sumarhum, Sukarjo, Nanang, dan Nursiti. Ketika itu, Pemerintah Kabupaten Bondowoso sedang membenahi tata niaga dan pasca panen kopi.

Ketika mulai serius bertani pada 2009, ia mengaku mengikuti kebiasaan saja tidak memperhatikan kebersihan, kualitas kopi, apalagi cara pengolahan hasil panen. Misalnya cara panen dengan menghabiskan seluruh biji di tangkainya sehingga biji kopi hijau bercampur merah (cherry).

Ia menjemur hasil di aspal jalan raya sehingga kotoran mudah melekat, dan tak melakukan perambangan atau seleksi biji kopi saat digiling. Harga biji kopi saat itu hanya Rp2500 per kilogram. Para petani menggiling bergiliran dengan mobil penjaja jasa giling yang lewat. Kelompoknya terdiri dari sekitar 25 KK mengolah sekitar 150 hektar milik Perhutani. Lahan ditanami dominan kopi Arabika karena ketinggiannya sesuai.

Pria tua ini lalu menunjukkan logo Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) untuk Arabika Java Ijen Raung yang memperlihatkan tahapan keberhasilan meningkatkan kualitas kopi Bondowoso. Mat Husen menjelaskan simbol-simbol dalam logo, ada gunung kembar Ijen-Raung, biji kopi, dan helai daun kopi.

Menurutnya 5 biji kopi terkait dengan 5 petani yang dilatih pada tahap awal, kemudian 7 helai daun menunjukkan para pihak yang berkolaborasi memajukan pertanian kopi hutan. Yakni Pemkab Bondowoso, Perhutani, Bank Indonesia, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Bank Jatim, Asosiasi Petani Kopi, dan kelompok petani.

“Sekarang biji kopi gelondong Rp10 ribu per kg, pantes Bondowoso disebut Republik Kopi tanpa istana. Istananya di kebun,” Mat Husen terkekeh.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian Bambang MM mendukung pemanfaatan hutan dengan kopi. “Merespon Presiden Jokowi. Memanfaatkan lahan pertanian menjadikan lahan hutan kombinasi kopi memberikan manfaat dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Ia mengatakan ini contoh baik. Kopi Bondowoso yang beberapa tahun lalu tak dikenal, sekarang mengangkat kopi lain di Indonesia. Dulu Perhutani tertutup dengan sekitar kebun, tapi kini beri nilai konservasi dengan usaha perkebunan kopi. Agar hutan lebih lestari.

Bambang mengapresiasi produk rekayasa teknologi di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) saat ini yakni kopi super yang hasilnya 3 kali lebih besar dan perakaran 3 kali lebih kuat untuk jaga risiko lingkungan. Ini penting dalam isu perubahan iklim. “Antisipasi perubahan iklim, ada hasil riset bor tanah untuk lubang rorak, semua air hujan akan masuk tanah tak ada yang hilang,” jelasnya.

Dari kebun kopi bisa dikembangkan agrowisata alam. Ia berharap Pemkab memetakan kembali potensi kopi yang bisa diperluas, Kementerian Pertanian menurutnya akan mendukung. Terlebih dari data, pangsa pasar kopi dunia terus naik, saat ini sekitar 9 juta ton naik 300.000 ton per tahun.

“Tren minum kopi muncul di kota dan desa. Dengan minum kopi bergairah, darah mengalir, budaya kopi kita harus ditingkatkan,” urai Bambang. Pemanfaatan lahan diharapkan dilaksanakan di sekitar kawah Ijen dan Raung. Juga terus mengembangkan dialog pemerintah dan para pihak dengan kelompok tani.

Kopi Indonesia Semakin Diminati Oleh Warga Taiwan

Kopi Indonesia Semakin Diminati Oleh Warga Taiwan – Taiwan merupakan salah satu pasar potensial ekspor Indonesia. Kini berbagai macam produk dari Tanah Air sudah semakin banyak masuk negara tersebut.

Baca juga : Kapiten Jadi Kopi Terfavorit di Ajang Pameran Kopi Internasional

Berdasarkan catatan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan, kinerja perdagangan Indonesia dengan Taiwan selalu surplus hingga 1 miliar dolar AS.

“Kita memang selalu surplus selama ini hingga di atas 1 miliar dolar AS. Ekspor ke Taiwan Indonesia posisi ke-3 dari negara-negara ASEAN,” ujar Kepala Perwakilan KDEI Taiwan, Robert James Bintaryo, di Taipei, Taiwan, Sabtu malam waktu setempat.

Robert mengatakan saat ini ekspor Indonesia ke Taiwan memang masih didominasi sektor tambang, yakni batu bara. “Mining masih besar, batu bara, timah. Tapi kami melihat juga ada peningkatan ekspor kopi dari Mandailing,” kata Robert.

Pertumbuhan konsumsi produk kopi olahan dalam negeri saat ini meningkat rata-rata 7% per tahun. Secara total ekspor produk kopi olahan Indonesia pada tahun 2014 mencapai 322,6 juta dolar AS, meningkat 10,6% menjadi 356,79 juta dolar AS pada tahun 2016.

Pada periode Januari–Agustus 2017, Total Perdagangan Taiwan dengan Indonesia mencapai sekitar 5,29 miliar dolar AS, dengan total ekspor ke Taiwan 3,18 miliar dolar AS.

Dibandingkan dengan total perdagangan pada periode yang sama tahun 2016 (4,61 miliar dolar AS) maka terjadi peningkatan sebesar 14,72%.

Total ekspor ke Taiwan terdiri dari total impor Minyak dan Gas sebesar 975,39 juta dolar AS dan Non Migas sekitar 2,2 miliar dolar AS. Ekspor kopi Indonesia ke Taiwan sendiri mencapai 14,5 juta dolar AS pada periode Januari-Agustus 2017.

Kapiten Jadi Kopi Terfavorit di Ajang Pameran Kopi Internasional

Kapiten Jadi Kopi Terfavorit di Ajang Pameran Kopi Internasional – Kapiten (Kopi Pasuruan) ditetapkan menjadi kopi terfavorit dalam World Plantation Conferences and Exhibition (Pameran dan Konferesni Perkebunan Dunia) di Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat. Kopi yang disodorkan dan menjadi favorit itu merupakan jenis arabika dari kelompok tani Sumber Makmur Abadi, Dusun Cowek, Jatiarjo Kecamatan Prigen, Pasuruan.

Baca juga : Kamu Akan Selalu Diingatkan Waktu Salat Di Kedai Kopi di Bandung ini

Disebutkan, kapiten bersaing dengan kopi dengan nama-nama mentereng seperti kopi Toraja, Aceh bahkan Bali.

Ajang internasional ini, disebut menjadi salah satu bagian upaya mengangkat potensi daerah. Dalam perkembangannya, diharapkan lebih meningkatkan derajat perekonomian warga Pasuruan.

Kopi Arabica Organik dari Kelompok Tani Sumber Makmur Abadi itu sengaja dijagokan pada ajang bergengsi kali ini. Kopi andalan Pasuruan tersebut, merupakan satu-satunya kopi di Jawa Timur yang bersaing dengan kopi-kopi dari daerah lain di Indonesia.

“Alhamdulillah, Kapiten Pasuruan jenis arabika merupakan kopi arabika terfavorit di indonesia,” ungkap Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf.

Kapiten menjadi favorit setelah dinilai memiliki cita rasa berbeda dengan kopi pada umumnya, selain pengemasan hingga jumlah pengunjung yang mencicipi Kapiten Pasuruan.

“Kebetulan saya sendiri pas di lokasi benar-benar kewalahan melayani banyaknya pengunjung yang penasaran mencoba Kapiten Pasuruan, mulai dari pengunjung biasa sampai bule-bule dari luar negeri,” lanjut Irsyad.

Bahkan, diantara ratusan pengunjung yang antre ingin mencicipi sekaligus memborong Kapiten Pasuruan adalah Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK).

Kata Irsyad, JK memuji kenikmatan Kapiten Pasuruan sebagai kopi yang beraroma kuat, serta memiliki rasa yang mantab. Diperkirakan itulah yang membuat Kapiten Pasuruan menjadi salah satu magnet kapiten dalam event tahunan ini

“Kalau yang nyicipin itu Pak JK dan memuji, maka sudah pasti kopi kita benar-benar enak dan mantab. Saya jadi lebih terpacu untuk terus mengembangkan Kapiten Pasuruan, lebih besar lagi,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT. RPN (Riset Perkebunan Nusantara), DR.Ir. misnawi menyerahkan langsung piagam penghargaan kepada Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, Ihwan.

“Saya lihat Bupati-nya luar biasa dalam mengembangkan Kapiten Pasuruan. Contoh sederhana dari stan Kapiten Pasuruan yang sangat menarik. seolah-olah mengajak kita untuk nongkrong di cafe atau gerai kopi yang modern dan artistik,” ujar Misnawi.

World Plantation Conferences and Exhibition (Pameran dan Konferensi Perkebunan Dunia) diselenggarakan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, pada 18-20 Oktober 2017.

Pasuruan masih memiliki peluang untuk meraih target tiga besar di ajang ini, setelah Pasuruan mencatatkan diri menjadi Top 16 Kopi Terbaik se-Indonesia tahun 2017.

Kamu Akan Selalu Diingatkan Waktu Salat Di Kedai Kopi di Bandung ini

Kamu Akan Selalu Diingatkan Waktu Salat Di Kedai Kopi di Bandung ini – Kedai kopi telah banyak bermunculan di Kota Bandung, Jawa Barat. Tapi ada yang menarik dari kedai kopi bernama Kopi Anjis yang terletak di Jalan Bengawan No 34 dan Jalan Gatot Subroto No 178, Bandung.

Baca juga : Benarkah Hirup Aroma Kopi Bisa Membuat Tubuh Lebih Tenang?

Konsep unik yang bernuasa Islami disajikan di Kopi Anjis. Salah satunya adalah live azan yang dikumandangkan karyawan kedai setiap akan memasuki waktu salat.

Pemandangan itu sempat diabadikan oleh Rinanda Halfi Muhamad di akun Instagam @r_halfi_m. Dalam postingan tersebut terlihat seorang karyawan kedai yang sedang mengumandangkan azan.

Saat dikonfirmasi, Halfi menceritakan bahwa kedai kopi itu milik seorang kenalannya yang akrab dipanggil Kang Eka. Dia tidak tahu secara pasti mulai kapan konsep live azan itu diterapkan.

“Saya kurang tahu pasti cerita dibaliknya, yang pasti Kang Eka lebih mendalami Islam. Dan mungkin (alasan) beliau bikin inovasi itu,” kata Halfi.

Selain live azan, dia menceritakan, setiap kali masuk waktu salat, karyawan Kopi Anjis juga mengingatkan para pelanggannya untuk salat.

“Pengunjung juga diingatkan untuk salat sama karyawannya, bawa kayak poster buat ngingetin salat,” jelasnya.