Kenikmatan Wisata Kopi di Banyuwangi

Kenikmatan Wisata Kopi di Banyuwangi – Desa Gombengsari berlokasi di bagian timur Banyuwangi, termasuk ke dalam wilayah perkebunan Kali Klatak, Kalipuro. Dari 212,8 kilometer persegi luas Kalipuro, 330 hektare di antaranya adalah kebun kopi rakyat.

Baca juga : Keunikan Kopi Lego Khas Banyuwangi

Ketika kamu memasuki wilayah ini, sepanjang jalan yang kamu susuri terpampang jelas kebun-kebun kopi bersama kandang kambing di sela tiap rumah warga. Aroma kopi dari tanaman hingga biji-biji kopi yang tengah berjemur di terik matahari menguar di udara.

Bayangkan jika ratusan hektar kebun kopi itu tengah berbunga. Barangkali surga pecinta kopi akan mewujud juga di sini. Di masa itu, biasanya memang banyak wisatawan, khususnya turis asing, datang berkunjung.

Rakyat desa ini menawarkan jenis wisata yang sedikit berbeda, yakni wisata edukasi di bidang pertanian dan peternakan. Kopi dan kambing etawa menjadi potensi unggulan yang tengah mereka kembangkan.

Datang ke sini, kami disambut oleh Haryono, yang akrab disebut Pak H.O, seorang petani dan juga pionir usaha wisata kopi di desa ini. “Berawal dari tahun 2016, kita membangun, mengenali, mengelola sebuah potensi yang ada di Gombengsari ini. Kita awali dengan kopi yang mana memang kopi ini sudah lebih 50 tahun ditanam,” jelasnya.

Kopi Lego namanya, singkatan dari Kopi Lerek Gombengsari. Kopi Lego menjadi merek dari produk kopi yang dihasilkan maupun nama usaha wisata yang tengah mereka kembangkan.

Di halaman rumahnya, seperti halnya rumah warga lain, penuh dengan kopi yang sedang berjemur ria menunggu kering agar bisa digiling. Kami tak segera diajak berkunjung ke kebun kopi yang disediakan untuk wisata, melainkan menuju kandang kambing etawa terlebih dulu.

Kambing peranakan etawa, penghasil susu, menjadi salah satu potensi yang dimiliki desa ini. “Kita punya produksi (susu kambing) ini bisa langsung dikonsumsi dan bebas bau. Itu akhirnya ini menjadi salah satu potensi yang kita jual,” papar Pak H.O di depan kandang berisi puluhan kambing miliknya.

Sehingga wisatawan bisa memerah susu sapi dan langsung meminumnya, meski tanpa dimasak.

Kambing dan kandangnya tampak cukup bersih dan terawat. Bau kambing tentu tetap tercium namun tak menusuk hidung. Proses pemerahan susu kambing berlangsung setiap hari, jadi kamu bisa menikmatinya kapan pun.

“Tak ada bau amis dan rasanya ada manis-manisnya ya,” ujar kami setelah mencoba meminum susu kambing segar ini. Susu kambing etawa ini dipercaya bisa meningkatkan vitalitas dan energi.

Pak H.O menjelaskan, jika tidak disimpan dalam suhu dingin susu ini hanya bisa bertahan 24 jam saja. Namun jika disimpan dalam lemari pendingin, ia aman diminum hingga hari ketiga. Kami pun membawa sebotol susu kambing segar.

Ketika secangkir kopi disuguhkan, kami diminta untuk mencampur susu dan kopi tersebut. Rasanya ternyata tak kalah dengan kopi-kopi di kafe atau resto mewah. Kopi susu ternikmat, bagi saya, yang pernah kami nikmati.

Setelah mengisi energi dengan kopi dan susu kambing, kami beranjak menuju kebun kopi yang khusus diperuntukkan bagi wisatawan. Di sana kami diajak berkeliling oleh Pak Taufik, petani dan pemilik kebun. Mulai dari memetik kopi hingga memanggang dan menumbuknya, kami coba.

“Yang dipetik itu yang bijinya sudah merah, minimal kuning lah. Soalnya pengaruh ke rasa,” ujarnya. Setiap hektar kopi berjenis robusta ini terdapat tiga jenis varietas kopi yang berbeda. “Per hektar itu ada tiga jenis kopi. Minimal 3 jenis kopi, kopi robusta ada jenis robusta togosari, ada robusta kleres, ada robusta konoga,” jelasnya.

Semula kopi-kopi digabung jadi satu, namun setelah diteliti rasanya yang berbeda-beda, ketiga jenis kopi itu pun dipisah berdasar jenisnya.

“Di masing-masing varietas itu kita coba seperti apa cita rasanya. Ternyata di sini masing-masing robusta dari varietas togosari, konoga, sama kleres ini memiliki rasa tersendiri. Yang ini alhamdulillah sekarang ada nilai jualnya tersendiri,” jelas Pak Taufik.

Setelah dipetik, kopi kemudian dijemur selama kurang lebih tiga hari. Hal itu demi mengurangi kadar air di dalamnya sehingga proses roasting bisa lebih cepat dan rasa lebih nikmat.

Proses selanjutnya adalah penggilingan yang menggunakan mesin giling sederhana. Kami menggiling kopi yang sudah disiapkan untuk digiling tentu saja. Kulit bekas kopi dimanfaatkan ulang kemudian sebagai pupuk organik dicampur dengan kotoran kambing yang banyak dimiliki warga desa di sini.

Setelah itu, kopi siap dipanggang. Caranya masih tradisional, yakni dipanggang di atas wajan tanah liat dengan tungku perapian dari kayu.

Perlu kesabaran, ketekunan, teliti, dan tenaga yang cukup untuk menyanggrai (menggoreng tanpa minyak) kopi hingga matang. Setidaknya 40 menit kopi tersebut harus terus diaduk di atas perapian sampai berwarna cokelat dan matang merata.

Barulah kemudian kopi ditumbuk, juga dengan cara tradisional. Sampai akhirnya bisa kamu seduh.

Menyeduh kopi di tengah hamparan kebun setelah lelah dan pegal tangan ternyata menimbulkan kepuasan yang berbeda. “Kopi itu digiling, bukan digunting,” ucap Pak Taufik sambil tertawa.

Keunikan Kopi Lego Khas Banyuwangi

Keunikan Kopi Lego Khas Banyuwangi – Banyuwangi ternyata tidak hanya memiliki potensi wisata alam dan budaya yang melimpah. Potensi kopi yang dimiliki, khususnya di wilayah Gombengsari, Kalipuro, Banyuwangi pun sedang naik daun.

Baca juga : Kini Ada Cat Kuku yang Mengandung Kafein

Dalam beberapa tahun terakhir ini potensi pertanian dan industri kopi di Indonesia memang terbilang meningkat pesat. Bahkan kopi mempunyai potensi pariwisata. Aneka kopi dari Sabang sampai Merauke bisa menjadi alasan wisatawan untuk mengunjungi berbagai daerah di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Kementerian Pariwisata RI, Esthy Reko Astuti.

“Kemudian juga, cara pengelolaannya itu juga menarik untuk wisatawan,” tambah Esthy. “Cara minumnya juga bervariasi dari masing-masing daerah. Nah itu akan menjadi daya tarik tersendiri, ya.”

Hal itu juga yang membuat warga desa Gombengsari memperkenalkan potensi kopi yang dimilikinya melalui pariwisata.

“Kopi sudah sangat populer dan hampir semua di kota-kota sekarang mulai muncul kedai, warung kopi, mulai dari yang sederhana sampai yang mewah. Yang pasti ini produknya petani,” ucap Haryono, salah satu petani di Gombengsari.

Pria yang akrab dipanggil Pak H.O ini pun bersama petani lainnya mengembangkan wisata kopi bernama Kopi Lego (Kampong Kopi Lerek Gombengsari). Melalui wisata ini para pengunjung diajak untuk berkenalan dengan jenis kopi yang dimiliki hingga menjajal langsung semua proses produksi kopi yang masih tradisional.

Gombengsari memiliki kopi berjenis robusta dengan 3 macam varietas, yakni Konoga, Togosari, dan Kleres. “Per hektar itu ada 3 jenis kopi. Minimal 3 jenis kopi, kopi robusta ada jenis robusta togosari, ada robusta kleres, ada robusta konoga,” papar Taufik, petani di Desa Gombengsari.

Kopi yang tumbuh di daerah antara Ijen dan pantai ini boleh dibilang memiliki cita rasa yang khas.

“Kopi di sini kenapa rasanya juga banyak konsumen ini ngomong beda dari yang lain mungkin juga dari letak geografisnya. Juga mungkin dari faktor pemupukannya. Karena di kita ini ya alhamdulillah kita ini sudah pemakaian pupuk organik,” jelas Taufik.

Walaupun berjenis robusta, kopi yang dihasilkan memiliki rasa yang lebih lembut. Bahkan jenis konoga, sebagai kopi paling mahal dari desa ini, mempunyai rasa seperti arabika.

“Paling mahal yang sekarang ini konoga. Karena cita rasa konoga ini sudah, jika diproses secara benar, mendekati (rasa) kayak arabika,” jelas Taufik.

4 Cara Presiden jokowi Tingkatkan Industri Kopi Lokal

4 Cara Presiden Jokowi Tingkatkan Industri Kopi Lokal – Presiden Jokowi mengungkapkan sebenarnya banyak sekali ragam kopi asli asal Indonesia. Jokowi pun memiliki sejumlah cara mengembangkan industri kopi lokal. Cara pertama, memperkenalkan brand lokal dengan intens.

Baca juga : 4 Manfaat Kopi Untuk Kesehatan Kulit

“Ini yang namanya kopi dari barat, Sabang sampai ke timur, Merauke itu banyak sekali. Mulai kopi Gayo, Mandailing, Lampung, Jawa Barat, ini Kintamani ada paling timur kopi Wamena dan di daerah lain. Ini akan mulai kita kenalkan. Brand lokal, brand lokal sekali lagi,” ucap Jokowi di Istana Negara

Tidak hanya mengembangkan kopi, Jokowi menilai pengembangan barista juga harus menjadi prioritas. Maka, strategi kedua Jokowi adalah mengembangkan barista lokal. Training terhadap barista, ungkap Jokowi, tidak perlu lama. Bisa empat hari atau seminggu agar mereka bisa mengolah kopi yang dihasilkan di Indonesia.

“Kopi dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote yang ingin saya sampaikan barista-barista ini penting sekali. Diperbanyak training-training barista,” lanjut dia.

“Saya kemarin melihat di Jember juga hal yang sama sudah mulai memberikan training-training singkat ada empat hari, ada seminggu, yang penting adalah bagaimana produk kopi ini tidak dijual mentahan,” ucap Jokowi.

Jika barista di Indonesia semakin banyak, Jokowi yakin nantinya mereka bisa dikirim ke Timur Tengah untuk mempromosikan kopi negeri sendiri.

“Dengan barista-barista semakin banyak nanti yang dikirim misalnya ke Timur Tengah itu adalah barista. Terutama negara-negara yang memiliki kegemaran ngopi, kopinya dari sini ada, baristanya siap, ini akan kita garap besar-besaran,” paparnya.

Sehingga nantinya barista itu bisa membuat usaha sendiri. Misalnya saja bisa membuat usaha kopi di rumah atau di cafe-cafe.

“Bisa saja menjadi barista di rumah-rumah pribadi, barista di cafe cafe. Itu kira-kira goalnya. Yang paling penting kopinya dicoba dulu. Ini kopi Kintamani,” imbuh Jokowi.

Cara ketiga, adalah menyajikan kopi lokal bagi tamu negara di Istana. Jokowi juga menegaskan, kopi-kopi asal Nusantara nantinya akan diperkenalkan ke tamu-tamu negara. Menurut Jokowi, semua kopi yang berasal dari Indonesia tidak ada yang tak enak.

Namun Jokowi mengaku bahwa dirinya tidak terlalu sering minum kopi. Karena ia lebih sering minum teh dan jamu.

“Kita ingin mengenalkan brand lokal dengan bahan baku kopi 100 persen dari negara kita Indonesia. Rasanya silakan pesan langsung ya. Semuanya enak. Nyoba kopi Gayo, enak, nyoba kopi Mandailing, enak, nyoba kopi Wamena, enak, kemarin nyoba kopi Jember, enak,” tambahnya.

Strategi terakhir, Jokowi akan sering nongkrong di kedai kopi lokal. Hal ini demi memastikan kopi lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Contohnya, Jokowi pernah mengunjungi Cafe Tuku yang kopinya berasal dari Indonesia dan diolah oleh anak-anak muda.

“Itu sebabnya saya datang misalnya ke Tuku. Saya ingin memastikan kenapa kopi-kopi dengan brand lokal dan dikerjakan anak-anak muda ini membangun brandnya berhasil. Pertama karena harganya kompetitif, rasanya enak dan pas, harganya lebih murah udah itu aja,” tuturnya.

Kopi Luwak Asli Wonosalam Jombang yang Nikmatnya Terkenal Hingga Luar Negeri – Kopi luwak asli khas Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang mempunyai daya pikat tersendiri bagi penikmat kopi. Karena kenikmatannya itu kopi luwak asli Wonosalam ini digemari oleh penikmat dari Jombang, luar kota hingga mancanegara.

Baca juga : Cara Mudah Melepaskan Diri dari Kecanduan Kopi

Setiap harinya, kopi luwak yang dijual Sulasmi ini tak sepi dari pengunjung. Selain karena jaminan keaslian kopi, penikmat yang datang juga bisa sambil berwisata melihat belasan luwak yang ditangkarkan pemilik warung kopi.

Beberapa kali penikmat kopi asal Taiwan dan Korea juga sengaja datang ke warung yang berada di lereng pegunungan tersebut. Di sini, pengunjung bisa menyeduh kopi sambil menikmati pemandangan alam hijau di sekitarnya.

“Kemarin ada yang datang dari Sidoarjo, Sumenep, Surabaya. Kalau beberapa waktu lalu ada dari Taiwan dan Korea. Mereka mengaku sengaja ingin menikmati kopi luwak di sini, mereka juga melihat langsung luwak yang kami pelihara,” jelas Sulasmi, pemilik warung kopi luwak.

Untuk menghasilkan kopi yang berkualitas dan terjamin, Sulasmi memiliki sebanyak 17 ekor luwak yang ditangkarkan. Setiap hari menghasilkan sekitar 1 kilo biji kopi. Namun biji kopi dari kotoran luwak ini tak bisa langsung diolah. Melainkan menunggu 12 bulan lagi supaya citarasanya yang khas muncul.

“Yang kami olah untuk disajikan ke pemesan hari ini, itu adalah hasil produksi luwak 1 tahun lalu. Hasil tahun ini akan diolah kemudian dijual tahun depan. Itu supaya khas kenikmatannya terjaga,” ujar perempuan yang berkerudung ini.

Memang ada perbedaan proses pembuatan minuman kopi luwak dengan pembuatan minuman kopi biasa. Untuk menjaga citarasa, bubuk kopi direbus dengan air yang mendidih. Setelah diaduk sampai rata, barulah dituangkan pada cangkir untuk dihidangkan pada pemesan.

“Saya sudah beberapa kali ke sini, memang ada ciri khas rasa yang berbeda dibanding kopi lainnya,” ujar Dedi Pratama, salah satu penggemar kopi luwak asal Surabaya.

Untuk mencapai warung kopi luwak yang dibandrol hanya Rp 10 ribu per cangkir ini, pengunjung bisa menempuh dengan tiga jalur. Yakni dari Kecamatan Mojoagung-Kedunglumpang-Wonosalam. Kemudian dari kota Jombang-Mojowarno-Mojoduwur-Wonosalam. Serta dan dari Kediri-Kandangan-Ngoro-Bareng-Wonosalam.

 

Kopi Sanger, Kopi Susu atau Cappucino ala Aceh

Kopi Sanger, Kopi Susu atau Cappucino ala Aceh – Selain menjadi tempat asal dari kopi premium yang sudah mendunia, yaitu kopi Gayo, Aceh juga mempunyai budaya minum kopi yang sudah sangat melekat di masyarakat lokal. Bahkan, kebiasaan minum kopi itu sudah dilakukan sejak zaman kesultanan Aceh pada puluhan tahun lalu.

Berbagai kedai kopi bisa ditemukan di berbagai penjuru kota, dan hampir seluruhnya menyajikan beragam menu minuman kopi. Tidak hanya kopi Gayonya saja yang nikmat, tapi ternyata ada minuman kopi Aceh lain yang tidak kalah nikmat dengan cita rasa yang autentik, bahkan bisa dibilang unik, yaitu Kopi Sanger.

Terdiri dari campuran antara kopi hitam dan susu kental manis yang dicampur dengan gula, biji kopinya sendiri berjenis kopi arabika atau robusta. Kopi ini dijuluki sebagai cappucino ala Aceh, dan kopi ini memiliki nayak buih dengan warna kecoklatan.

Nama kopi Sanger yang unik ternyata mempunyai cerita tersendiri. Kata ‘sanger’ berasal dari bahasa Aceh, ‘sanggeng’, yang memiliki arti bodoh karena takarannya yang lebih sedikit jika dibandingkan kopi susu pada umumnya.

Dan, istilah ‘sanggeng’ sendiri bergeser menjadi ‘sanger’ karena pada tahun 1990-an, ketika pertama kali muncul, harga kopi Sanger sangatlah murah dan pas di kantong mahasiswa, sehingga dijuluki sebagai kopi ‘sama-sama ngerti’ yang disingkat ‘sanger’.

Aroma kopi saring terasa sangat harum dan semerbak. Cita rasanya sendiri juga sangat nikmat, sangat mirip kopi susu, tetapi dengan cita rasa kopi yang kuat dan rasa manis yang pas.

Menjadi salah satu minuman kopi khas dari Aceh, kenikmatan kopi Sanger sudah melekat di hati masyarakat dari berbagai kalangan usia, baik tua maupun muda. Apakah tertarik untuk mencicipinya?