Pasuruan Akan Tambah UPH Untuk Perkuat Mutu dan Nilai Tambah Kopi

Pasuruan Akan Tambah UPH Untuk Perkuat Mutu dan Nilai Tambah Kopi

Pasuruan Akan Tambah UPH Untuk Perkuat Mutu dan Nilai Tambah Kopi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan akan mengembangkan dan membentuk kembali Unit Pengelolaan Hasil (UPH) kopi. Pusat Penelitian (Puslit) Kopi dan Kakau Jember pun diajak untuk bekerjasama guna penguatan mutu serta nilai tambah produk perkebunan di tingkat petani.

Baca juga : Usai Mengonsumsi Kopi Mengapa Jantung Berdebar-debar?

Hal itu disampaikan Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf saat menghadiri acara Petik Kopi Merah di Dusun Gunung Malang, Desa Tambak Sari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

Ditegaskan oleh Irsyad Yusuf, setidaknya UPH bisa menjadi kontrol dari kopi yang dihasilkan petani selama ini.

Ada 8 kecamatan mulai Prigen, Purwodadi, Tutur hingga Puspo, dengan luas lahan berkisar 26 hektar yang semuanya dikatakan cukup produktif dalam menghasilkan kopi.

Potensi wilayah tersebut, selanjutnya akan terus digali dan dikembangkan. Utamanya membangun UPH pada masing-masing kecamatan.

Bupati yang akrab dipanggil Gus Irsyad inipun berharap, UPH bisa menjaga cita rasa kopi agar tetap terjaga. Harapan lain, petani kopi Pasuruan dapat meningkatkan bentuk dan mutu kopi hingga memiliki nilai dan manfaat ekonomi lebih tinggi.

“Kami sudah punya 3 UPH. Ke depan, akan kami tambah lagi jumlah UPH-nya. Pastinya, kami sudah mencoba bekerjasama dengan Puslit Kopi dan Kakau Jember,” ujarnya.

Dijelaskan pada sebelumnya, Pemkab Pasuruan mendukung upaya promosi dan pengembangan Kopi Asli Kabupaten Pasuruan (Kapiten).

Gus Irsyad juga sudah mengalokasikan anggaran khusus untuk mempromosikan dan mengembangkan kopi asli Pasuruan. Kopi Pasuruan ini mempunyai potensi yang sangat besar jika dikembangkan secara maksimal.

Dikatakan, saat ini sudah ada 3 kopi asal Pasuruan yang sudah mendapatkan hak paten dari Kemenkumham. Tiga kopi itu adalah Kopi Ledug milik Kelompok Tani (Poktan) Prigen, kopi Jos milik Poktan Tutur, Arjuno Semar milik Poktan Tambaksari Purwodadi.

“Mudah-mudahan semakin banyak yang bisa mendapatkan hak paten,” imbuh Gus Irsyad.

Diketahui kopi milik petani ini dibranding menjadi 1 nama yakni Kapiten. Upaya itu dinilai cukup berhasil. Terbukti, kopi kapiten yang merupakan kumpulan kopi-kopi milik petani kopi di Pasuruan sudah bisa masuk di pasar nasional, bahkan internasional.

“Karena kopi kapiten ini memiliki cita rasa sendiri. Bagi sebagian orang, kopi Pasuruan memiliki keunikan di citarasa yang tidak dimiliki kopi dari daerah lainnya,” lanjut Irsyad.

Dilanjutkan, kopi Kapiten Pasuruan ini sudah sering mendapatkan penghargaan. Bahkan, beberapa waktu lalu, Kapiten berhasil meraih juara 2 festival kopi di Aceh.

“Cita rasa kopi kapiten Pasuruan ini harus tetap terjaga sampai kapan pun,” ujarnya.

Sementara, Endri Krisnu, koordinator pengembangan kopi Kapiten Pasuruan menambahkan, kopi kapiten sudah tersedia di salah satu hipermarket terkemuka yang ada di Jawa Timur. Selain Pasuruan, daerah Malang, Mojokerto, dan beberapa daerah lainnya juga sudah dirambah.

“Ke depan, kami bisa masuk atau buka di semua carefour yang ada di Jawa Timur. Ini sudah kami bicarakan dan sedang dalam proses mewujudkannya,” ujar Endri.

Selain itu, pihaknya akan membuka kafe kopi kapiten di pusat perbelanjaan yang ada di Kediri Cita rasa kopi kapiten Pasuruan yang diambil dari kopi milik petani di beberapa daerah sudah cocok di lidah penikmat kopi. “Kopi yang saya ambil ini kopi milik petani. Ada tiga yang menjadi andalan, kopi lanang dan suwuk dari petani Ledug, Prigen. Kopi Luwak dari petani Jos Kopi, Tutur, dan kopi robusta dari petani Tambaksari, Purwodadi,” Endri memungkasi.

Author: jordan